Blog

Leadership

Oleh: Nailla Marsela Salsabela Vebriyanti, Indra Wahyu Dwi Cahyono, Ana Rosidah

YOGYAKARTA – SMKN 2 Yogyakarta terus menunjukkan komitmennya dalam mencetak generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga berkarakter kuat melalui pembiasaan Leadership Character. Pembiasaan ini diterapkan secara terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran di kelas maupun di luar kelas, dengan tujuan membekali siswa nilai-nilai kepemimpinan seperti tanggung jawab, kejujuran, disiplin, serta kemampuan mengambil keputusan secara bijak. 

Pembiasaan Leadership Character diimplementasikan secara terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran di kelas maupun aktivitas di luar kelas. Berbagai kegiatan seperti organisasi siswa, ekstrakurikuler, dan pelatihan kepemimpinan menjadi sarana utama dalam pembentukan karakter. Melalui pendekatan ini, siswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Leadership character ini merupakan bagian dari pembiasaan sekolah yang bernama The Industrial Culture School (TICS). Tujuan adanya pembiasaan ini adalah untuk mempersiapkan peserta didik mengenal budaya yang ada dalam kegiatan industri. SMK N 2 Yogyakarta ini mengadaptasi budaya industri yang ada di Jepang yaitu Horenso, yang merupakan singkatan dari tiga pilar bisnis di Jepang: Houkoku (melaporkan), Renraku (menginformasikan), dan Soudan (berkonsultasi). Budaya ini dipilih karena di SMKN 2 Yogyakarta ini memiliki kerjasama dengan mitra yang ada di Jepang, sehingga peserta didik diharapkan mengenal budaya ini sejak dini melalui pembiasaan yang dilaksanakan di sekolah.

Dalam pelaksanaannya, sekolah menerapkan berbagai metode pembelajaran yang berorientasi pada penguatan karakter. Siswa dilibatkan dalam pelatihan organisasi, simulasi pengambilan keputusan, hingga kerja kelompok untuk menyelesaikan masalah. Kegiatan tersebut bertujuan melatih kemampuan berpikir kritis, komunikasi, serta kerja sama tim. Waka Kurikulum, Bapak Untung Suprapto S.Pd, mengatakan “Para guru juga aktif membimbing dan ikut menerapkan pembiasaan ini di semua kegiatannya misalnya ketika rapat, membuka dan menutup kelas, serta melibatkan siswa dalam setiap kegiatan agar nilai kepemimpinan dapat dilatih dan diterapkan menjadi karakter kedepannya” ujarnya, Jumat (22/5/2026).

Siswa menjadi subjek utama dalam pembiasaan ini dengan keterlibatan aktif dalam organisasi sekolah seperti organisasi dan apel jurusan. Melalui peran tersebut, siswa belajar mengelola kegiatan, mengambil keputusan, serta bertanggung jawab atas tugas yang diemban. Pengalaman ini menjadi bekal penting dalam membentuk jiwa kepemimpinan.

“Pembiasaan Leadership Character di sekolah membuat saya menjadi lebih disiplin, bertanggung jawab, percaya diri dalam berbicara di depan umum, mampu bekerja sama dalam tim, menghargai pendapat orang lain, serta lebih siap menghadapi dunia kerja karena terbiasa dengan budaya industri.” ungkap salah satu siswa kelas XI.

Penerapan pembiasaan ini juga tercermin dalam keseharian siswa di lingkungan sekolah. Mereka dibiasakan untuk disiplin, bertanggung jawab, serta menghargai pendapat orang lain. Selain itu, siswa dilatih untuk mampu bekerja sama dan menyelesaikan masalah secara bijak. Pembiasaan Leadership Character dilaksanakan secara berkelanjutan dan menjadi bagian dari budaya sekolah.

Wakil Bidang Budaya, Bapak Yohanes, mengatakan “Pembiasaan ini selaras dengan The Industrial Cultre School (TICS), kami ingin mencetak anak-anak yang memiliki jiwa kepemimpinan melalui kedisiplianan misalnya seperti kerapian seragam dan kehadiran sebelum pukul 06.45 WIB. Slogan kami bukan datang tepat waktu, melainkan datang lebih awal. Selain itu, pembiasaan imtak setiap hari selasa dan kamis membangun kedekatan spiritual, dan juga nilai tanggung jawab yang dilakukan misalnya dari hal kecil tentang penggunan seragam di sekolah, ada juga etos kerja yang tidak mudah mengeluh dan menyerah” jelasnya pada (22/05/2026).

Salah satu kegiatan rutin dalam pembiasaan ini adalah Basic Mentality on Friday, yaitu sesi mingguan yang mempersiapkan siswa melalui materi kepemimpinan, pengenalan budaya dunia kerja, dan penguatan karakter. Siswa juga aktif dalam kegiatan organisasi dan apel jurusan, di mana mereka belajar mengelola kegiatan, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas tugas yang diemban.

Bapak Untung juga manambahkan “Dampak yang dirasakan adanya penerapan pembiasaan ini adalah perubahan karakter anak-anak, namun tidak dapat telihat secara langsung, akan tetapi dengan adanya pembiasaan ini kedepannya karakter anak-anak mulai terbentuk dan diminati oleh perusahaan industri, itu yang bisa terlihat dampaknya dan nantinya pembiasaan ini berdampak positif dan akan terus dikembangkan” ujarnya, pada Jumat (22/05/2026).

Dukungan dari dunia industri turut memperkuat implementasi pembiasaan ini. Kemitraan yang terjalin memberikan wawasan nyata mengenai etika kerja dan tanggung jawab profesional, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Bapak Untung Suprapto menyebutkan bahwa dampak pembiasaan mulai terlihat dari minat industri terhadap lulusan sekolah. “Dampaknya tidak langsung terlihat, tetapi karakter anak-anak mulai terbentuk dan diminati oleh industri. Pembiasaan ini akan terus dikembangkan karena industri tidak hanya membutuhkan keterampilan, tetapi juga karakter dan sikap,” ungkapnya.

Perubahan positif juga dirasakan oleh siswa dan orang tua. Salah satu siswa kelas XI mengungkapkan manfaat yang ia rasakan secara langsung. “Pembiasaan Leadership Character membuat saya lebih disiplin, bertanggung jawab, percaya diri berbicara di depan umum, mampu bekerja sama dalam tim, menghargai pendapat orang lain, serta lebih siap menghadapi dunia kerja karena terbiasa dengan budaya industri,” ungkapnya.

Respons serupa datang dari para orang tua siswa. Bapak Yohanes menyampaikan bahwa wali murid memberikan tanggapan positif terhadap perkembangan anak-anak mereka. “Anak-anak lebih disiplin dan datang lebih awal ke sekolah. Dari sisi kerapian, setiap bulan ada kegiatan potong rambut. Jiwa kepemimpinan siswa pun mulai terlihat, misalnya dalam keikutsertaan mereka di komunitas dan organisasi,” jelasnya.

Di balik keberhasilannya, pembiasaan ini masih menghadapi tantangan. Bapak Yohanes mengakui bahwa internalisasi nilai belum sepenuhnya tercapai. “Kami belum bisa menyentuh sisi hati mereka sepenuhnya. Sebagian siswa masih sekadar mendengar dan menghafal, seperti visi-misi sekolah dan slogan, tanpa benar-benar melaksanakannya dengan sepenuh hati,” ujarnya. Hal ini menjadi pengingat bahwa pembentukan karakter adalah proses jangka panjang yang membutuhkan ketekunan dan konsistensi dari seluruh pihak

Pembiasaan Leadership Character yang telah berjalan kurang lebih tiga tahun ini kini menjadi salah satu identitas utama SMK N 2 Yogyakarta. Bapak Yohanes berharap pembiasaan ini tidak berhenti pada pengenalan konsep TICS semata. “Harapannya, pembiasaan ini benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari seperti di rumah, di sekolah, maupun di lapangan kerja. Perlu ada pengembangan dan kerja sama yang lebih luas untuk mewujudkannya secara maksimal,” ujarnya.

Melalui pembiasaan ini, SMKN 2 Yogyakarta optimis dapat mencetak generasi muda yang tidak hanya cerdas dan terampil secara teknis, tetapi juga berkarakter kuat dan siap menjadi pemimpin di masa depan. Upaya ini mempertegas peran sekolah kejuruan dalam menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas, berintegritas, dan berdaya saing tinggi di era industri global.

Leave a Comment

Your email address will not be published.